A.
Aktivitas
Pembelajaran Matematika Untuk Meningkatkan Kemampuan Geometri
1. Aktivitas belajar
Menurut [1]
megemukakan bahwa di dalam belajar diperlukan adanya aktivitas, tanpa aktivitas
belajar maka tidak mungkin akan adanya keberlangsungan dengan baik. Aktivitas
dalam proses belajar mengajar adalah suatu rangkaian kegiatan yang terdiri dari
keaktifan peserta didik dalam mengikuti proses pembelajaran, adanya Tanya jawab
terhadap materi yang belum difahami, mencatat, mendengar, berfikir, membaca,
menghitung, dan lain sebagainya untuk menunjang prestasi belajar peserta didik.
Menurut [2]
Syaiful (2005) aktivitas belajar peserta didik mencakup sebagai berikut:
a. Peserta
didik belajar secara individual untuk menerapkan konsep, prinsip dan
generalisasi
b. Peserta
didik belajar dalam bentuk kelompok untuk memcahkan masalah.
c. Setiap
peserta didik berpartisipasi dalam melaksanakan tugas belajarnya melalui
berbagai cara.
d. Peserta
didik berani untuk mengajukan pendapat.
e. Ada
aktivitas belajar analisis, sintesis, penilaian, dan kesimpulan.
f. Antar
peserta didik terjalin hubungan social dalam melaksanakan kegiatan belajar.
g. Setiap
peserta didik bias mengomentari dan memberikan tanggapan terhadap pendapat
peserta didik yang lain.
h. Setiap
peserta didik diberi kesempatan menggunakan berbagai sumber belajar yang
tersedia.
i. Setiap
peserta didik berupaya menilai hasil belajar yang dicapainya.
j. Ada
upaya dari peserta didik untuk bertanya kepada guru dan meminta pendapat gutu dalam
upaya kegiatan belajarnya.
Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan diatas, bias
diambil kesimpulan bahwa aktivitas belajar merupakan sebuah rangkaian kegiatan
yang dimana peserta didik mengikuti pembelajaran sehingga mengakibatkan
perubahan perilaku belajar pada diri peserta didik, seperti dari yang tidak
faham menjadi faham.
2.
Jenis-jenis
Aktivitas Dalam Belajar
Menurut [1]
yang mengurip dari Paul.B Diedrich, beliau membuat suatu daftar yang berisi 177
macam kegiatan peserta didik yang dapat digolongkan menjadi 8 bagian,
diantaranya:
1.
Visual
activities, yang termasuk didalamnya misalnya membaca,
memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain
2.
Oral
activities, seperti: menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, interupsi.
3.
Listening
activities, sebagai contoh mendengarkan : uraian, percakapan,
diskusi, music, pidato.
4.
Writing
activities, seperti misalnya cerita, karangan, laporan, angket,
menyalin.
5.
Drawing
activities, misalnya: menggambar, membuat gradik, peta, diagram.
6.
Motor
activities, yang termasuk didalamnya antara lain: melakukan
percobaan, membuat konstruksi, model mereparasi, bermain, berkebun, beternak.
7.
Mental
activities, sebagai contoh misalnya: menanggapi, mengingat,
memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan, emngambil keputusan.
8.
Emotional
activities, seperti misalnya menaruh minat, merasa bosan,
gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang, gugup.
Sehingga dengan mengklarifikasi aktivitas seperti
halnya yang tertera diatas, menunjukkan bahwa aktivitas di sekolah cukup
kompleks dan bervariasi. Jika berbagai kegiatan tersebut dapat diciptakan atau
dilaksanakan disekolah maka sekolah-sekolah akan lebih dinamis. Tidak
membosankan dan menjadi pusat aktivitas belajar yang maksimal . tetapi hal
tersebut sebenarnya menjadi tantangan tersendiri bagi guru. Kreativitas guru
sangatlah diperlukan agar supaya kegiatan peserta didik yang bervariasi dapat
terencana dengan baik.
B. Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika
Kemampuan pemahaman konsep matematis merupakan salah
satu tujuan terpenting dalam pembelajaran matematika, memberikan pengertian
bahwa materi-materi yang diajarkan kepada peserta didik bukan hanya sekedar
hapalan melainkan lebih dari itu dengan pamahaman peserta didik akan lebih
mudah memahami akan konsep materi pelajaran matematika. Menurut [1] meyatakan bahwa
istilah pemahaman berasal dari kata paham, yang menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia diartikan sebagai pengetahuan banyak, pendapat, aliran, mengerti
benar. Adapun istilah pemahaman sendiri didefinisikan sebagai proses, cara,
perbuatan memahami.
Pemahaman konsep merupakan kemampuan peserta didik
yang berupa penguasaan sejumlah materi pelajaran, dimana peserta didik tidak
hanya mengetahui atau mengingat sejumlah konsep yang dipelajari, akan tetapi
peserta didik pun mampu mengungkapkan kembali dalam bentu atau bahasa lain yang
mudah dimengerti. Memberikan interpretasi data dan mampu mengaplikasikan konsep
yang sesuai dengan struktur kognitif yang dimilikinya. Menurut [1] hal-hal yang
mempengaruhi terjadinya pemahaman adalah sistematis sajian materi, karena
materi akan masuk ke otak jika masuknya teratur.
Menurut [2] dalam
menyampaikan suatu materi pembelajaran, seorang guru haruslah memperhatikan
singkat kemampuan peserta didik tersebut. Guru harus mengetahui tingkat
perkembangan mental dari peserta didik tersebut dan bagaimana pengajaran yang
seharusnya dilakukan agar sesuai dengan tingkatan perkembangan peserta didik.
Pembelajaran yang tidak menggunakan tingkatan perkembangan mental peserta didik
akan mengakibatkan terjadinya kesulitan pemahaman dari peserta didik karena
tidak sesuainya pembelajaran dengan tingkat kemampuan peserta didik. Untuk
dapat menentukan tingkat berfikir dari peserta didik, guru haruslah dapat
mendeskripsikan proses berpikir dari peserta didik dalam menyelesaikan
permasalahan matematika sehingga nantinya guru akan mengetahui tingkatan
berpikir daripada peserta didik tersebut.
C. Kemampuan Berpikir Geometri Matematika
1.
Pengertian
Berpikir Geometri Matematika
Berpikir menurut [3] mengutip dari
Suryabrata (2010) adalah proses dinamis yang dapat dilukiskan menurut proses
atau jalannya dan Iskandar mengemukakan berfikir sebagai proses pengetahuan
yang menghubungkan antara stimulus dan respon dari kegiatan kognitif tingkat
tinggi. Sehingga berpikir merupakan kegiatan proses pengetahuan dan kegiatan
kognitif tingkat tinggi yang dapat dilihat berdasarkan prosesnya.
Sedangkan menurut [4] berpikir diartikan sebagai proses untuk membentuk
representasi mental baru melalui transformasi informasi oleh interaksi kompleks
dari atribusi mental yang mencakup pertimbangan, pengabstrakan, penalaran,
penggambaran, penyelesaian masalah yang logis, pembentukan konsep, kreativitas
dan kecerdasan. Artinya berpikir merupakan aktivitas mental mencakup
pertimbangan, pengabstrakan, penalaran, penggambaran dan penyelesaian masalah.
Adapun geometri adalah salah satu canag dari
matematika yang memperlajari berbagai bentuk, posisi dan sifat-sifat keruangan.
Kebanyakan dari obyek di dunia digambarkan dalam bentuk, sehingga geometri
menempati posisi yang penting dalam kurikulum. Oleh karenanya, geometri
merupakan pembelajaran yang penting, sehingga perlu adanya pengkajian mengenai
berpikir geometris peserta didik. Ungkapan diatas diperkuat oleh Goos, dkk
(2007) dalam [3], yang menyatakan
bahwa jika berpikir geometris peserta didik dikembangkan maka akan dapat
mengembangkan kemampuan imajinasinya, dapat memahami objek yang sebenarnya
tanpa melihatnya, dapat melihat objek yang dinamis. Sehingga berpikir geometris
mutlak diperlukan dalam setiap cabang matematika dan sudut pandang geometris
telah memberikan wawasan yang tepat bagi banyak peneliti sepanjang sejarah.
2.
Tingkat
Berpikir Geometri Matematika
Teori mengenai
proses perkembangan yang dilalui peserta didik dalam mempelajari geometri
adalah teori Van Hiele. Dimana Van Hiele menyatakan bahwa dalam mempelajari
geometri peserta didik mengalami perkembangan kemampuan berpikir melalui
level-level tertentu. Van Hiele juga mengatakan bahwasannya terdapat lima
tingkat berpikir peserta didik dalam bidang geometri, dimana setiap tahapnya
menggambarkan proses pemikiran yang diterapkan dalam konteks geometri, yaitu:
1.
Level 0 (visualisasi)
Pada level ini, peserta didik mengenal bentuk-bentuk
geometri hanya sekedar karakteristik visual dari suatu objek. Peserta didik
memandang objek secara keseluruhan namun tidak terfokus pada sifat-sifat objek
yang diamati. Oleh karenanya, pada level ini peserta didik tidak bias memahami
dan menentukan sifat geometri dan karakteristik bangun yang ditunjukkan Clements
(1992) dalam [4]. Sebagai contoh, pada tingkat ini peserta didik
mengetahui bentuk pintu sebagai suatu bangun persegi panjang, tetapi peserta
didik tersebut belum menyadari karakteristik bangun persegi tersebut dengan
sepenuhnya.
2.
Level 1 (analisis)
Pada level analisis, pada peserta didik sudah terlihat
adanya analisis terhadap konsep dan sifat-sifat bangun geometri. Peserta didik dapat
menentukan sifat-sifat suatu bangun dengan melakukan pengukuran, pengamatan,
menggambar bahkan membuat model. Namun dengan demikian, peserta didik belum
sepenuhnya dapat menjelaskan hubungan antara sifat-sifat yang ada pada geometri
dan belum memahami berbagai definisi (Clements, 1992) dalam [4]. Contohnya, pada
level analisis ini peserta didik sudah bisa mengatakan bahwa suatu bangun
dikatakan persegi apabila bangun tersebut memiliki empat sisi yang sama dan
semua sudutnya siku-siku.
3.
Level 2 (deduksi informal)
Pada level ini, peserta didik sudah dapat melihat
hubungan antara sifat-sifat suatu bangun geometri dan sifat-sifat berbagai
bangun dengan menggunakan deduksi informal, dan dapat mengklarifikasi
bangun-bangun secara hierarkis (mengurutkan sifat-sifat). Menurut Crowley
(1987) dalam [4] peserta didik
pada level berpikir deduksi informal sudah dapat melihat hubungan sifat-sifat
pada suatu bangun. Contohnya, pada jajar genjang sisi yang berhadapannya
sejajar hal tersebut mengakibatkan sudut-sudut yang berhadapannya sama besar.
Jadi pada level berpikir ini peserta didik sudah dapat mengungkapkan
definisi-definisi yang abstrak dan dapat memberikan argumen-argumen informal
serta mengklarifikasi bangun-bangun dengan hierarkis (mengurutkan sifat-sifat).
4.
Level 3 ( deduksi)
Pada level deduksi ini peserta didik tidak hanya
sekedar menerima bukti, akan tetapi sudah mampu menyusun bukti. Peserta didik
mampu membuat sebuah daftar aksioma dan definisi untuk membuat teorema. Peserta
didik pun membuktikan teorema tersebut dengan menggunakan pemikiran yang logis.
Usiskin (1982) dalam [4] mengemukakan
bahwa pada level ini peserta didik sudah memahami peranan definisi. Aksioma dan
teorema pada geometri.
5.
Level 4 (rigor)
Pada level ini peserta didik bernalar secara formal
dalam system matematika dan dapat menganalisis konsekuensi dari manipulasi
aksioma dan definisi. Saling berkaitan antara bentuk yang tidak didefinisikan,
aksioma, teorema dan pembuktian formal dapat dipahami. Clements (1992) dalam [4] mengemukakan
bahwa rigor dengan level matematika bernalar secara formal dalam system
matematika serta dapat menganalisis konsekuensi dari manipulasi aksioma dan
definisi. Pada level rigor ini, peserta didik memerlukan tahap berpikir yang
kompleks dan rumit, oleh karenanya level ini jarang dicapai oleh para peserta
didik di sekolah.
Berkaitan
dengan yang dikemukakan diatas, maka pembelajaran geometri seharusnya
disesuaikan dengan level berpikir peserta didik [5], sehingga
pentingnya melihat level berpikir peserta didik agar supaya pembelajaran
geometri dapat berjalan sesuai dengan harapan.
Oleh karenanya,
guru-guru harus memiliki kemampuan kretifitas terhadap pengajaran agar
terciptanya proses belajar mengajar yang aktif dan menyenangkan sehingga dapat
diterima baik oleh para peserta didik. Sehingga jika sudah terjalin proses
belajar mengajar dengan aktif dan menyenangkan sampai diterima oleh peserta
didik, maka peserta didik pun dapat dengan mudah memahami segala konsep
matematika bahkan cara berpikir mereka pun akan berubah sesuai dengan yang
diharapkan yaitu berpikir geometri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar